Cara Menghadapi Ujian Nasional (UNAS)


*(Ditulis oleh : Sunarwijah,S.Pd – Guru SMK Taman Karya Madya Teknik Kebumen ( Pemerhati Pendidikan di Kebumen)
 
UNAS dapat memacu sekolah untuk lebih baik dan menghasilkan lulusan yang bermutu sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan juga memiliki daya dorong yang cukup kuat untuk menumbuhkan daya kompetitif sekolah untuk mencapai standar nasional dan internasional dalam bidang pendidikan yang dapat menjadi daya perekat antar daerah di era otonomi saat ini dalam kerangka suatu sistem  pendidikan nasional. Untuk itu dalam rangka menyosong Ujian Nasional Akhir Sekolah (Unas)  tersebut  akan saya sampaikan strategi bimbingan dalam menghadapinya yang terdiri dari :
I.      STRATEGI  BIMBINGAN   BAGI  PESERTA  DIDIK
Salah  satu  kebijakan  pemerintah  dalam  dunia  pendidikan  adalah  penetapan standard kelulusan hasil  ujian akhir nasional yaitu nilai untuk setiap mata pelajaran yang  diujikan harus  minimal  5,0 dimana  pelajaran yang diujikan antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA dan nilai  rata-rata untuk semua mata pelajaran juga harus minimal 5,0.  Adanya ketentuan ini membuat banyak pelajar yang merasa kaget dan semakin  was-was akan nasibnya dalam ujian akhir  nasional. Tidak hanya  pelajar  tetapi  juga  para  orang tua, mereka  cemas  dengan  adanya  kebijakan  tersebut.
        Syarat kelulusan yang meningkat dibandingkan tahun lalu menjadi tantangan bagi guru, siswa, sekolah, dan juga orang tua. Belajar saja tidak cukup. Untuk dapat lulus Ujian Nasional (UN), diperlukan strategi jitu. Beberapa strategi berikut dapat dilakukan dalam menghadapi UNAS, yaitu sebagai berikut :
1.     Pertama, siswa dibimbing mempelajari dan kuasai materi dari soal-soal yang diujikan dalam ujian tahun lalu hingga beberapa tahun lalu. Ini penting, karena dari tahun ke tahun, soal-soal yang diujikan dalam ujian nasional cenderung merupakan pengulangan dari tahun sebelumnya. Artinya, soal-soal tersebut berasal dari materi yang sama tetapi mengalami sedikit modifikasi. Misalnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tahun 2009 yang lalu menanyatakan amanat yang tekandung dalam petikan cerpen, pertanyaan yang sama kembali muncul pada tahun 2010 hanya dengan mengubah petikan cerpennya. Begitu juga materi lain dan pelajaran lainnya. Pengulangan materi dari tahun ke tahun dalam ujian nasional bisa mencapai 60-70 %. Bayangkan saja jika siswa menerapkan strategi ini, berarti mereka sudah dapat menjawab soal ujian hingga 70 % pula.
2.     Kedua, siswa diberikan panduan ujian yang dikeluarkan BNSP melalui Puspendik, utamanya contoh-contoh soal yang diberikan. Mengapa? Boleh dikatakan bahwa contoh-contoh soal tersebut merupakan ‘pembocoran’ soal ujian secara halus. Artinya, bentuk soal tersebut akan keluar hanya dengan sedikit perubahan. Jadi, kalau misalnya di panduan tersebut dicontohkan 15 item soal, kuasailah materi dan cara penyelesainnya. Kelak di UN siswa akan menyelesaikan dengan mudah dan benar pula 15 item soal. Jika demikian, nilai 3,0 sudah berada di tangan.
3.     Ketiga, siswa diberi bimbingan untuk menguasai materi-materi yang yang terdapat dalam Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). Sudah bisa dipastikan bahwa SKL merupakan acuan utama pembuatan soal UN. Soal-soal yang diujikan tidak akan melenceng dari SKL tersebut.
4.     Keempat, siswa diberi bimbingan dengan memperbanyak berlatih menyelesaikan prediksi soal-soal.  Dengan seringnya berlatih, siswa akan terbiasa menyelesaikan soal-soal dengan berbagai variasi. Kelak ketika tiba di ‘pertempuran’ yang sesungguhnya siswa tidak kaget lagi dengan model soal yang ada.
Hal-hal di atas merupakan strategi teknis yang dapat dilakukan. Namun demikian strategi untuk hal-hal nonteknis juga tidak kalah pentingnya. Untuk itu, berikut ini beberapa strategi nonteknis yang dapat dilakukan, yaitu :
a)    Khusus soal bacaan (utamanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), siswa diminta membaca terlebih dahulu pertanyaan sebelum membaca bacaan. Mengapa? Membaca bacaan membutuhkan waktu yang lama dan itu berarti siswa akan kehilangan waktu. Selain itu, jika siswa membaca bacaan terlebih dahulu baru kemudian membaca pertanyaan, bisa jadi siswa akan kembali mengulang membaca bacaan tersebut untuk kedua kalinya. Berapa lama waktu akan terbuang?
Contoh kasus, jika pertanyaan hanya menanyakan ide pokok paragraf pertama, berarti siswa hanya butuh membaca paragraf pertama. Tidak perlu membaca bacaan secara keseluruhan karena itu hanya membuang waktu.
b)    Dahulukan soal yang mudah. Ini strategi yang sudah umum tetapi sangat penting. Siswa tidak bisa berlama-lama membuang waktu untuk satu item soal yang susah. Selesaikan dulu soal yang mudah baru kemudian kembali ke soal yang susah. Memperoleh nilai yang tinggi dalam ujian sangat penting, tetapi untuk lulus tidak mesti memperoleh nilai 10. Jadi, soal yang mudah akan membantu peserta ujian untuk lulus.
c)     Eleminasi segera jawaban yang dianggap salah. Untuk siswa SMP, terdapat empat pilihan jawaban. Artinya, persentase kemungkinan benar untuk setiap item soal sebesar 25 %. Tetapi, jika siswa mengeleminir satu saja pilihan jawaban dengan memastikan pilihan tersebut salah, maka persentase kebenaran jawaban siswa menjadi 33,3 %. Bahkan jika siswa mengeleminir dua jawaban, persentase kebenaranya sudah 50 %. Jika sudah seperti ini dan siswa betul-betul tidak bisa memilih satu diantara dua jawaban yang tersedia, peluang untuk menjawab benar sudah 50 %. Jadi, pilih saja!
d)    Hati-hati dengan bocoran soal yang sering kali beredar menjelang ujian. Untuk keuntungan pribadi, seringkali orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengedarkan soal yang diklaim sebagai bocoran soal ujian. Padahal, tujuan mereka hanya untuk meraup keuntungan dengan menjual soal tersebut. Hal ini dapat membuat siswa terlena karena merasa yakin sudah memperoleh bocoran soal, mereka tidak belajar lagi.
e)    Hati-hati dengan kunci jawaban palsu. Sama dengan poin di atas, menjelang  ujian sering kali beredar kunci jawaban yang dibuat orang tak bertanggung jawab untuk keuntungan pribadi. Ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dibandingkan dengan poin soal yang palsu di atas. Bayangkan saja, jika kuncil tidak memiliki hubungan dengan jawaban. Siswa sangat mungkin tidak lulus ujian.
Selain itu, penting juga menanamkan dalam diri siswa bahwa lulus Ujian Nasional merupakan target dan tujuan utama. Tetapi, melakukan kecurangan untuk lulus harus ‘diharamkan’ bagi diri kita. Tidak ada gunanya menghalalkan segala cara seperti  mempercayai bocoran soal atau kunci jawaban Ujian Nasional yang terkadang menjerumuskan siswa untuk berlaku curang.
Untuk itu pada saat pelaksanaan UNAS maka sebaiknya guru memberikan motivasi dan arahan sebelum siswa melaksanakan Ujian dengan menghimbau untuk :
1.     Datang dengan persiapan yang matang dan lebih awal, yaitu dengan membawa semua alat  tulis yang dbutuhkan, seperti pensil, penghapus,penggaris,dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantu siswa untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
2.     Tenang dan percaya diri, ingatkan siswa bahwa dia harus sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.
3.     Bersantai tetapi waspada, dengan duduk di kursi yang telah ditentukan dengan nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan posisi duduk tegak agar mendapat  tempat yang cukup untuk mengerjakannya.
4.     Preview soal-soal ujian lebih dahulu, dengan meluangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
5.     Jawab soal-soal ujian secara strategis, mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang diketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi.
Pertanyaan terakhir yang seharusnya siswa kerjakan adalah:  soal paling sulit  yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya dan memiliki nilai terkecil.
6Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak. Mula-mula, abaikan jawaban yang diketahui  salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat  diabaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawaban  biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila yakin akan koreksi yang telah dilakukan.
7.   Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis. Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin ditulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang akan ditulis.
8.     Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya. Tulis kalimat pokok pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esai. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poin dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatan.
9.     Sisihkan 10% waktu untuk memeriksa ulang jawaban. Periksa jawaban; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi apabila telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawaban untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikanya yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
10.  Analisis hasil ujian, setiap ujian dapat membantu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai dan tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir.
II.     STRATEGI  UNTUK GURU PEMBIMBING
        Setiap tahun pelaksanaan Ujian Nasional  memang selalu menjadi pembicaraan hangat bahkan kontroversi karena masih terdapat tindak kecurangan atau penyelewengan dalam pelaksaanaan Ujian, misalnya jual-beli soal atau jawaban yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Polemik makin berkepanjangan ketika banyak siswa yang tidak lulus Ujian Nasional, apalagi siswa-siswa yang tidak lulus tersebut adalah siswa-siswa yang berprestasi disekolahnya.
Nilai Ujian Nasional yang dijadikan sebagai kunci apakah siswa lulus atau tidak setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun memang menjadi hal yang dilematis bagi sekolah dan dinas yang terkait. Di satu sisi, ini merupakan sebuah program dalam meningkatkan kualitas kompetensi lulusan. Namun, di sisi lain, bila input siswa yang dimiliki kemampuannya minim, ditambah fasilitas yang kurang memadai dan kondisi-kondisi lainnya yang kurang menunjang untuk peningkatan kualitas siswanya, maka kekhawatiran akan hasil Ujian Nasional  yang mengakibatkan banyaknya siswa tidak lulus adalah sangat beralasan.
Banyaknya siswa yang tidak lulus akan memengaruhi kredibilitas sekolah di mata masyarakat  yang akan berdampak pada menurunnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Alhasil sekolah pun harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hasil ujian. Di antara sekian strategi yang bisa dilakukan oleh guru pembimbing adalah:
1.     Meningkatkan motivasi siswa.  Motivasi adalah dorongan yang ada dalam diri seeorang. Bila seseorang memiliki motivasi tinggi maka seberat apa pun tantangan yang ada di hadapannya akan mampu ia atasi. Karena itu, menumbuhkan motivasi yang tinggi di siswa adalah langkah awal yang harus dilakukan.
Tentu saja tidak mudah untuk menumbuhkan motivasi atau gairah belajar yang tinggi di siswa ini. Diperlukan pendekatan khusus, mungkin bisa dimulai dengan pengklasifikasian siswa dari siswa yang memiliki high motivation sampai yang low motivation, lalu dibuat progress report-nya.
Lakukan proses penanganan per siswa, terutama yang memiliki motivasi belajar kurang sampai kemudian motivasi belajarnya itu muncul. Pendekatan psikologis secara personal di luar jam pelajaran dengan suasana yang rileks dan nyaman perlu dilakukan sehingga ada kedekatan dan keterbukaan antara siswa dan guru.
2.     Mengubah sistem pembelajaran. Sistem pembelajaran dalam menghadapi Ujian Nasional tentu saja harus berbeda dengan sistem pembelajaran sehari-hari. Selain pemberian materi juga diadakan pembahasan soal-soal,  bahkan setiap akhir minggu atau akhir bulan sebaiknya dilakukan try out untuk mengukur sampai di mana kompetensi yang telah dikuasai siswa. Pembelajaran akan lebih mudah kalau menggunakan sistem kerja tim untuk guru dan sistem kelompok belajar untuk siswa.
Kelompok siswa ditentukan oleh nilai hasil try out. Siswa yang mendapat nilai di atas standar disatu-kelompokkan dan yang kurang dibuat  kelompok yang lain. Dampak negatifnya siswa yang dalam kelompok kurang akan merasa tersisih, tapi ini bisa disiasati dengan memberikan dukungan dan motivasi bahwa mereka mampu dan mereka pun dituntut untuk masuk ke kelompok yang mendapat nilai bagus. Pembuatan kelompok ini dilakukan untuk mempermudah pembahasan terhadap materi pelajaran yang tidak di kuasai siswa.
3.     Meminta dukungan dari orang tua siswa. Sekolah harus terus berkoordinasi dengan orang tua mengenai program-program dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Diharapkan partisipasi orang tua secara aktif dalam membantu anak-anaknya terutama dalam pemberian motivasi dan pengawasan belajar di rumah.
4.     Berdoa, doa merupakan perwujudan permohonan seseorang kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa  agar diberi kemudahan. Efek dari doa juga melahirkan ketenangan dan ketawakalan. Ini penting karena dalam persiapan menghadapi ujian terkadang guru pada saat  membimbing siswa terganggu oleh kondisi tekanan yang bisa mengganggu kosentrasi, dan bagi peserta didik pelaksaan ujian kondisi ketenangan berpengaruh dalam proses pengisian jawaban soal-soal ujian. Karena itu, dorong siswa agar lebih memperbanyak doa.
Mudah-mudahan dengan langkah-langkah di atas pelaksanaan Ujian Nasional dapat  memberikan pelajaran yang berharga bagi siswa, tidak hanya mendapat nilai yang sesuai dengan standar kelulusan, tapi juga merasakan bagaimana sikap harus bekerja keras untuk memperoleh sesuatu dan juga meningkatkan sikap taqwa.
Terlepas dari itu, menurut penulis sebaiknya kelulusan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai Ujian Nasional yang hanya diwakili oleh beberapa mata pelajaran. Alangkah lebih baiknya kalau kelulusan ditentukan melalui beberapa indikator, di antaranya hasil nilai Ujian Nasional, nilai rata-rata akhir semua mata pelajaran, prestasi ekstrakurikuler, dan sikap siswa baik secara mental maupun perilaku. Semoga pendidikan kita bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Selamat menghadapi Unas dan semoga sukses !

Posted on 30/03/2011, in Dunia Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. thank for the nice suggestion, but i still don’t have the bright solution for English exam if somehow the student’s vocabularies are limited

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: